Pengertian Nafkah

Pengertian Nafkah, Syarat, Dalil dan Aplikasi

Pengertian Nafkah, Syarat, Dalil dan Aplikasi

Pengertian Nafkah

Hubungan perkawinan menimbulkan kewajiban nafkah atas suami untuk istri dan anak-anaknya. Dalam kaitan ini QS. Al Baqarah : 233 mengajarkan bahwa ayah(suami yang telah menjadi ayah) berkewajiban memberi nafkah kepada ibu anak-anak (istri yang telah menjadi ibu) dengan makruf. Seseorang tidak dibebani kewajiban, kecuali menurut kadar kemampuannya. Seorang ibu jangan sampai menderita kesengsaraan karena anaknya. Demikian pula seorang ayah jangan sampai menderita kesengsaraan karena anaknya dan ahli wari pun juga demikian.
Ayat Al-Qur’an telah memberikan ketentuan bahwa nafkah keluarga yang memerlukan bantuan menjadi beban keluarga-keluarga yang mampu. Kewajiban memberi nafkah tersebut bagi seseorang disebabkan oleh adanya hubungan saling mewarisi dengan orang yang diberi nafkah.

Pengertian Memberi Nafkah

Pengertian Nafkah ialah tanggung jawab utama seorang suami dan hak utama istrinya. Apabila diberikan kepada istri dengan lapang dada, tanpa sedikitpun unsur kikir, merupakan kontribusi utama yang dapat mendatangkan keseimbangan dan kebahagiaan rumah tangga.[1]
Nafkah menjadi hak dari berbagai hak istri atas suaminya sejak mendirikan kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, syariat Islam menetapkan, baik istri kaya ataupun fakir dalam firman Allah Swt. :
ﻠِﻴُﻨﻔِﻖْﺬُﻮﺴَﻌَﺔٍﻤِّنﺴَﻌَﺘِﻪِ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.”(QS. Ath-Thalaq :7).[2]
Melihat begitu besar urgensinya, Allah Swt. Dan Rasul-Nya memerintahkan untuk ditunaikannya.
Firman Allah Swt tentang nafkah.:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa:34).

Dan firman-Nya tentang perihal nafkah

“ Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah berilah nafkah menutrut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya.” (At-Thalaq:7).
Dari Mu’awiyah bin Hidah r.a berkata, saya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salah satu hak istri dai kami?” Rasulullah bersabda,
ﺃَنْﺘُﻄْﻌِﻤَﻬﺎَﺇﺬﺍﻄَﻌِﻤْﺖَﻮَﺘَﻜْﺴُﻮَﻫَﺎﺇﺬَﺍﺍﻜْﺘَﺴَﻴْﺖَﻮَﻻَﺘَﻀْﺮِﺐِﺍﻠْﻮَﺠْﻪَﻮَﻻَﺘﻘَﺒﱢﺡْﻮَ ﻻَﺘَﻬْﺠُﺮْﺇﻻﱠﻔﻲﺍﻠﺒَﻴْﺖِ٠
Yaitu, kalian memberinya makan bila kalian makan, dan memberinya pakaian bila kalian berpakaian. Janganlah kalian memukul wajah, menjelek-jelekkan, dan janganlah mengasingkannya kecuali di rumah (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah(shahih)).
Ungkapan “….janganlah mengasingkannya kecuali di rumah,” maksudnya, apabila suami hendak menghukumnya, cukuplah dengan memisahkan tempat tidurnya, bukannya mengusir atau menyakitinya dengan kata-kata kasar.[4]

Hadis mengenai Memberi Nafkah dan kandungannya

Artinya, Hakim Muawiyah Qusyairi menerima berita ini dan bapaknya RA, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “hai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang kami atas suaminya?” jawab Beliau, “Hendaklah ia memberikan makanannya, jika makan, memberikan pakaian, jika ia berpakaian”.(HR Muslim)
Termasuk suatu kesalahan atas suami jika hanya memakan sesuatu sendiri dan istrinya tidak dibolehkannya, lain halnya jika membahyaakan istri.
Artinya, Abu Hurairah RA menceritakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “tangan diatas (memberi) lebih baik dari tangan dibawah (yang menerima pemberian), maka mulai dari orang yang ia tanggung nafkahnya, karena istri dapat berkata kepada suaminya, “berilah saya makanan ataukah saya diceraikan?”
Hadis diatas mengajarkan agar mencukupkan nafkah istri atau keluarga lebih dahulu sebelum kepada orang lain. Termasuk istri atau keluarga yang jahat, jika nafkahnya sudah memadai, tetapi ia menutup pintu kemugkinan suami berbuat baik terhadap karibnya yang lain.
Abu Hurairah RA menceritakan, bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi SAW seraya bertanya, “hai Rasulullah, saya punya uang satu dinar bagaimana ini?” jawab Beliau, “belanjakan untuk keperluan dirimu”. Tanyanya, “Ada lagi?”, Jawab Beliau, “berikan kepada keluargamu”. Tanyanya, “ada lagi?”, jawab beliau, “berikan kepada pembantumu”. Tanyanya, “ada lagi?” jawab beliau, “ kamulah yang lebih tahu untuk siapa itu”

Mengenai penentuan jumlah Nafkah

Jika istri hidup serumah dengan suami, maka suaminya wajib menanggung nafkahnya, istri mengurus segala kebutuhan, seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal. Dalam hal ini, istri tidak berhak meminta nafkah dalam jumlah tertentu, selama suami melaksanakan kewajibannya itu.
Jika suami bakhil, yaitu tidak memberikan nafkah secukupnya kepada istri tanpa alasan yang benar, maka istri berhak menuntut jumlah nafkah tertentu baginya untuk keperluan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Hakim boleh memutuskan berapa jumlah nafkah yang harus diterima oleh istri serta mengharuskan suami untuk membayarnya jika tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh istri ternyata benar.
1