Moody’s: Operator Telekomunikasi Masih Menghadapi Tekanan Pada 2020

Moody’s: Operator Telekomunikasi Masih Menghadapi Tekanan Pada 2020

Moody’s: Operator Telekomunikasi Masih Menghadapi Tekanan Pada 2020

Moody’s Operator Telekomunikasi Masih Menghadapi Tekanan Pada 2020

Menjelang berakhirnya 2019, sejumlah lembaga riset dan ekonomi terkemuka

, mulai merilis hasil penelitian mereka. Salah satunya adalah Moody’s. Lembaga pemeringkat ekonomi yang berbasis di New York itu, mengeluarkan laporan tentang prospek industri telekomunikasi pada 2020.

Dalam kajian yang dipublikasikan pada Rabu (4/12/2019) di Singapura, Moody’s Investors Service menyimpulkan bahwa perusahaan telekomunikasi di Asia Pasifik akan mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang moderat pada 2020.

Hal itu terutama dipicu oleh kompetisi yang semakin intensif,

sementara belanja modal yang tinggi dan pengembalian pemegang saham akan mengarah pada arus kas bebas netral.

“Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan berkisar 2,5% -2,7% untuk perusahaan telekomunikasi di Asia Pasifik, tertinggal dari pertumbuhan PDB rata-rata 3,8% ketika sektor ini semakin matang dan menjadi komoditas,” kata Nidhi Dhruv, Wakil Presiden dan Analis Senior Moody.

Dhruv menambahkan bahwa, kebutuhan belanja modal juga tetap tinggi di seluruh wilayah, mewakili sekitar 23% dari pendapatan.

“Moody’s berharap lebih banyak perusahaan akan mendanai pengeluaran mereka melalui penjualan aset

dan dengan mengurangi pembayaran dividen,” kata Dhruv.

Moody’s menilai, belanja modal tetap tinggi khususnya di pasar negara berkembang karena perusahaan telekomunikasi berinvestasi dalam infrastruktur jaringan.

Sementara perusahaan telekomunikasi di pasar maju mendapat manfaat dari jaringan yang sudah mapan, menjaga belanja modal di bawah 20% dari pendapatan.

Sebagai front runner, operator telekomunikasi di Australia, China dan Korea sudah mulai menawarkan layanan 5G pada akhir 2019. Jepang dipastikan akan menyusul pada 2020.

 

Baca Juga :

1