Jabar Masih Kekurangan Ribuan Ruang Kelas

Jabar Masih Kekurangan Ribuan Ruang Kelas

Jabar Masih Kekurangan Ribuan Ruang Kelas

Jabar Masih Kekurangan Ribuan Ruang Kelas

BANDUNG – Angka kebutuhan ruang kelas belajar di Jawa Barat dipandang masih kurang. Sebab, banyak sekolah yang ruang belajarnya masih menumpang ke sekolah yang lain.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengaku, Jawa Barat masih butuh banyak ruang kelas. Menurut dia, minimal ada penambahan 5.000 unit untuk tingkat SMA/SMK.

”Kemarin pun kita tetap sama (membangun, Red) 5.000 unit ruang kelas untuk tingkat SD hingga SMA dan SMK. Untuk tahun ini karena kewenangan SMA dan SMK berada di provinsi, maka kita akan lebih fokus lagi membangun dengan jumlah yang sama. Tapi penganggarannya tahun berikutnya (2018, Red),” papar Deddy kepada wartawan di sela kunjungan kerjanya di SMKN 1 Soreang, kemarin (10/10).

Ditemani istrinya, Giselawati Wiranegara, Deddy melihat-lihat beberapa ruangan kelas dan ruang praktik siswa. SMKN 1 Soreang sendiri, masih memberlakukan dua shift jadwal belajar. Sebab, meski memiliki 24 rombongan belajar, hanya 13 kelas yang tersedia.

Selain, itu bengkel atau ruang praktik siswa (RPS) masih kekurangan dua. Sebab, RPS

untuk teknik kendaraan ringan (TKR) dilakukan secara filial atau kelas yang dibuka di luar sekolah induk karena keterbatasan ruang kelas.

Melihat hal itu, Deddy mengatakan, kondisi tersebut tak hanya terjadi di SMKN 1 Soreang saja. Namun juga di sejumlah SMP dan SMK yang jumlah keseluruhannya mencapai 4.400 sekolah.

Deddy mengatakan, saat ini di beberapa kabupaten masih ada siswa yang belajar secara menumpang di sekolah lainnya. Oleh karena itu, Deddy mendorong agar pihak sekolah tidak segan-segan untu membuat pengajuan ke provinsi.

”Bisa jadi karena lahannya kurang. Nah, provinsi siap membantu membelikan lahan

dan membangun ruangannya,” katanya.

Saat ini, dikatakan orang kedua di Jawa Barat itu mengatakan, prioritas provinsi adalah menyebarkan pendidikan seluas mungkin. Agar anak bisa menunaikan haknya untuk bersekolah.

”Ada tiga faktor integrasi, bagaimana pendidikan bisa diraih secara dini, meraih pendidikan setinggi-tingginya, dan kemudian seluas-luasnya, makanya multi kampus ini harus disegerakan,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMKN 1 Soreang, Ayi R Sumirat mengatakan pihaknya

pun telah menyampaikan kekurangan sarana dan prasarana yang dialami sekolahnya.

”Kalau bangunan kelas dan RPS bisa terpenuhi, insya Allah tahun depan bisa pagi semua, jadi tidak ada dua shift,” kata Ayi

 

Sumber :

https://egriechen.info/